Wednesday, March 09, 2005

Pertanyaan-pertanyaan

Dalam tulisan di bawah ini, Islam saya artikan sebagai seperangkat ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW pada abad ke 7 Masehi di jazirah Arab. Bagi seorang muslim, ajaran-ajarannya itu diyakini berdasar pada wahyu Tuhan (dalam bahasa Arab disebut dengan Allah). Dalam masa penyampaian ajarannya itu, perkataan, tindakan, persetujuan dan juga ketidaksetujuan Muhammad terhadap suatu hal ditulis oleh para sahabat-sahabatnya, dan kemudian ditransmisikan secara lisan dan juga tulisan kepada generasi-genarasi berikutnya. Wahyu Allah disebut sebagai Alquran, ditulis dan tersebar luas. Perilaku Muhammad disebut dengan sunnah atau hadis, juga ditulis dan tersebar luas. Dua hal itulah yang menjadi dasar utama pola pikir, cara bertindak, dan sudut pandang orang-orang yang meyakini Islam.

Apa yang menjadi problema besar untuk orang-orang yang memeluk Islam di masa sekarang ini dan di masa yang akan datang? Di banyak belahan dunia, Islam sekarang dijadikan sebagai kendaraan untuk tujuan-tujuan politik dan kekerasan yang menjadikan wajah Islam secara general memiliki karakteristik bringas, kejam dan terkait dengan kekerasan. Mungkin kita tidak bijak kalau kita secara langsung menyalahkan orang-orang yang terlibat dalam gerakan-gerakan radikal yang menjadikan Islam sebagai orientasi ideologisnya.

Orang-orang yang terlibat dalam gerakan radikal ini muncul karena realitas yang mereka hadapi juga radikal. Marginalisasi, pemiskinan struktural, perampokan sumber daya oleh kapitalisme global, kekerasan negara, agresi militer Amerika Serikat, semuanya adalah realitas yang radikal. Orang-orang beringas lahir dari kondisi di luar mereka yang juga beringas. Di samping kalangan radikal, ada varian keislaman yang lain. Di sini saya sebut dengan kalangan puritan baru.

Siapakah yang saya maksudkan dengan orang-orang puritan baru? kalangan puritan baru adalah orang-orang yang mengamalkan Islam dalam versinya yang paling eksklusif. Mereka tidak melakukan aksi kekerasan, tetapi memilih untuk menjalankan Islam secara ketat (kaffah). Menerapkan hukum secara langsung dengan menetapkan hukum yang diderivasi secara harfiyah dari Alquran dan Hadis. Kebanyakan kalangan puritan baru menyelesaikan pendidikan mereka di lembaga-lembaga pendidikan sekular, dan meraih kesarjanaan dalam bidang sains. Yang laki-laki berjanggut dan yang perempuan berjilbab (ada juga yang memakai cadar). Di sini saya sama sekali tidak bermaksud merendahkan kalangan puritan baru ini, mereka muncul karena kondisi dan realitas sosial yang spesifik, realitas seperti apa yang mampu memunculkan orang-orang puritan baru? Dengan realitas spesifik yang mereka hadapi mereka kemudian merasa gelisah, dan mencari pemuas kegelisahan itu dari Islam, atau apa yang mereka yakini sebagai Islam. Islam seperti apa yang kerapkali ditemui oleh kalangan puritan baru? Mengapa Islam dalam varian ini begitu mudah diterima dan menyebar luas sehingga menjadi orientasi paradigmatik yang mudah berkecambah? Orang-orang yang memiliki latar belakang apa yang paling sering terikut dalam pengajaran Islam puritan ini? Apakah ada varian dalam keislaman kalangan puritan baru ini? Kalaulah ada apa saja varian itu?

Apakah ajaran Islam memiliki banyak potensi yang membuat orang-orang puritan baru memiliki justifikasi atau pendasaran terhadap perilakunya? Bagian manakah dari ajaran Islam itu yang paling banyak menjadi pendasaran perilaku mereka? Bagaimanakah khazanah Islam klasik berinteraksi dengan bagian Islam ini? Apakah ada perbedaan pemahaman? Kalaulah ada perbedaan pemahaman terhadap bagian Islam itu, mengapa kalangan puritan baru memilih mengambil versi penafsiran yang paling puritan? Bagaimanakah mekanisme transmisi ilmu-ilmu keislaman di kalangan puritan baru? Mungkinkah ada lompatan paradigmatik di kalangan puritan baru menuju varian Islam yang lain, misalnya menuju Islam radikal yang menggunakan cara kekerasan, atau malah berbalik menuju varian Islam yang lebih inklusif dan liberal? Kalaulah kemungkinan itu ada, variabel apa yang terkait dalam proses itu? Orang-orang dengan latar belakang seperti apa yang paling memungkinkan mengalami lompatan seperti itu?

1 comment:

sadewa said...

Bisa saja kalangan Neo-Puritan ini sebenarnya korban dari marginalisasi kelas menengah, marginalisasi pun mengalami eskalasi seiring dengan hasil korporasi besar yang memangkas pemahaman patologis mereka terhadap manusia.
Mereka anda katakan berpendidikan, betul, karena pendidikan pun juga mengalami marginalisasi (walaupun sekolah sekular), hal ini dapat dimafhumi karena peningkatan populasi yang luar biasa.
Otokritik agama berkembang ketika tingkat intelektual umat juga bertumbuh, layaknya akademi-akademi di Eropa pada masa sebelum reformasi, mereka membantu rakyat menjadi bisa membaca dan memahami secara literal dan non-literal apa yang terjadi pada masa itu.